Vinland Saga: Mahakarya Seinen tentang Penebusan
Vinland Saga: Mahakarya Seinen Ketika mendengar kata “Viking”, imajinasi kolektif kita biasanya langsung tertuju pada kekerasan yang brutal, penjarahan desa, teriakan perang, dan impian mati syahid menuju Valhalla. Musim pertama Vinland Saga memberikan semua itu dengan dosis tinggi: aksi berdarah, politik licik, dan dendam kesumat seorang bocah bernama Thorfinn. Namun, apa yang terjadi di musim kedua—yang dikenal sebagai Farmland Arc (Arc Pertanian)—justru mengubah serial ini dari sekadar anime aksi sejarah yang bagus menjadi sebuah mahakarya filosofis yang transenden.
Diadaptasi dari manga seinen karya Makoto Yukimura, Vinland Saga adalah sebuah anomali. Ia berani mengambil risiko besar dengan mengubah total genre dan temponya secara drastis di tengah jalan. Perpindahan studio dari Wit Studio ke MAPPA tidak melunturkan kualitasnya, justru mempertegas kedalaman emosionalnya. Ini bukan lagi kisah tentang bagaimana membunuh musuh, melainkan tentang bagaimana membunuh “monster” di dalam diri sendiri. Vinland Saga mengajarkan bahwa menjadi “prajurit sejati” tidak membutuhkan pedang.
Transformasi Thorfinn: Studi Karakter Terbaik
Jantung dari serial ini adalah perjalanan Thorfinn Karlsefni. Di musim pertama, kita melihatnya sebagai remaja yang dipenuhi amarah, hidup hanya untuk membalas dendam kepada Askeladd, pria yang membunuh ayahnya. Ia adalah definisi dari kekerasan yang tak terarah. Namun, ketika objek balas dendamnya mati di depan matanya (bukan oleh tangannya), Thorfinn kehilangan tujuan hidup. Ia menjadi cangkang kosong.
Musim kedua menggambarkan proses rekonstruksi jiwa Thorfinn dengan sangat lambat dan menyakitkan. Dijual sebagai budak di ladang Ketil, Thorfinn dipaksa menghadapi hantu-hantu masa lalunya. Setiap malam ia dihantui mimpi buruk tentang orang-orang yang pernah ia bunuh. Momen ketika Thorfinn menyadari beban dosanya dan memutuskan untuk menempuh jalan pasifisme (“Saya tidak punya musuh”) adalah salah satu pengembangan karakter paling kuat dalam sejarah anime. Penonton diajak merasakan betapa beratnya memegang janji tanpa kekerasan di dunia yang mengagungkan pembunuhan. Transformasi dari “bocah pendendam” menjadi “pria pencari penebusan” ini dieksekusi dengan penulisan yang brilian dan penuh empati.
Paradoks Canute: Dua Sisi Mata Uang Vinland Saga: Mahakarya Seinen
Kejeniusan Vinland Saga juga terlihat dari cara ia menyejajarkan perjalanan Thorfinn dengan Raja Canute. Jika Thorfinn memilih jalan penebusan pribadi dan menolak kekerasan untuk menciptakan kedamaian (mencari Vinland), Canute memilih jalan kekuasaan dan manipulasi politik.
Canute percaya bahwa untuk menciptakan “surga di bumi” dan menyelamatkan rakyat Viking yang barbar, ia harus menggunakan “mahkota” yang berlumuran darah. Ia rela melakukan hal-hal keji demi kebaikan yang lebih besar (greater good). Kontras antara Thorfinn yang membangun (menanam gandum) dan Canute yang menaklukan (perang) menciptakan dialektika filosofis yang menarik. Keduanya menginginkan perdamaian, namun metode mereka bertolak belakang. Pertemuan kembali mereka di akhir musim kedua adalah benturan ideologi yang diselesaikan bukan dengan duel pedang, melainkan dengan kata-kata—sebuah klimaks anti-klimaks yang justru terasa sangat epik.
Farmland Arc: Membosankan atau Mendalam?
Harus diakui, perubahan tempo di musim kedua memecah belah penonton. Mereka yang datang hanya untuk melihat aksi tebas-tebasan mungkin akan merasa bosan dengan Farmland Arc yang didominasi dialog, pertanian, dan politik perbudakan. Serial ini sering dijuluki “Farm Simulator” secara sinis. (berita sepakbola)
Namun, bagi mereka yang sabar, arc ini justru adalah puncak artistik Vinland Saga. Anime ini berani memperlambat waktu untuk membiarkan karakternya bernapas. Hubungan persahabatan antara Thorfinn dan Einar (sesama budak) dibangun secara organik, membuat penonton benar-benar peduli pada nasib mereka. Adegan sederhana seperti keberhasilan panen gandum pertama digambarkan dengan euforia yang sama besarnya dengan memenangkan perang. MAPPA berhasil menangkap keindahan visual alam pedesaan yang kontras dengan kekejaman nasib para budak, menciptakan atmosfer melankolis yang indah.
Visual dan Audio yang Menghanyutkan
Secara teknis, Vinland Saga tetap tampil prima. Meskipun aksi berkurang, kualitas animasi tetap detail, terutama pada ekspresi wajah karakter yang sering kali berbicara lebih banyak daripada dialog. Luka di tangan Thorfinn, tatapan mata yang kosong lalu perlahan berisi harapan, semuanya dianimasikan dengan presisi.
Musik gubahan Yutaka Yamada juga layak mendapat pujian khusus. Soundtrack-nya yang didominasi instrumen string dan piano minimalis sangat cocok dengan nada cerita yang kontemplatif. Lagu-lagu tersebut mampu memancing air mata di momen-momen sunyi, seperti saat karakter sampingan (Arnheid) menghadapi tragedi hidupnya.
Pesan Anti-Perang yang Radikal
Di balik seting sejarahnya, Vinland Saga membawa pesan anti-perang yang radikal. Thors (ayah Thorfinn) pernah berkata, “Prajurit sejati tidak membutuhkan pedang.” Kalimat ini menjadi tesis utama cerita. Anime ini menantang konsep maskulinitas tradisional Viking (dan mungkin masyarakat modern) yang mengukur kekuatan dari kemampuan fisik mendominasi orang lain.
Sebaliknya, Vinland Saga mengajukan gagasan bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan untuk mengendalikan diri, memaafkan, dan menciptakan sesuatu yang berguna bagi kehidupan, bukan menghancurkannya.
Kesimpulan Vinland Saga: Mahakarya Seinen
Vinland Saga adalah tontonan yang menuntut kedewasaan penontonnya. Ia tidak menawarkan kepuasan instan berupa pertarungan brutal setiap episode. Sebaliknya, ia menawarkan perjalanan spiritual yang mendalam tentang rasa bersalah, tanggung jawab, dan kemungkinan untuk memulai kembali hidup yang baru.
Bagi mereka yang bersedia menyelaminya, ini adalah salah satu kisah terbaik yang pernah diceritakan dalam medium anime. Thorfinn Karlsefni telah membuktikan bahwa memenangkan perang melawan diri sendiri jauh lebih sulit—dan lebih mulia—daripada memenangkan perang melawan seribu pasukan.
review anime lainnya ….
