Review Anime The Rising of the Shield Hero

Review Anime The Rising of the Shield Hero. Anime The Rising of the Shield Hero terus menjadi salah satu isekai paling ikonik sejak debutnya pada 2019. Cerita mengikuti Naofumi Iwatani, pemuda biasa yang dipanggil ke dunia lain sebagai Shield Hero, tapi langsung dikhianati dan difitnah. Ia bangkit dengan Raphtalia, Filo, dan party lainnya untuk melawan Waves of Catastrophe. Setelah musim pertama yang fenomenal dengan 25 episode, diikuti musim kedua pada 2022, musim ketiga pada 2023, serta musim keempat yang tayang dari Juli hingga September 2025, seri ini baru saja menyelesaikan arc terbarunya. Pada akhir musim keempat, pengumuman musim kelima langsung diberikan, menjanjikan kelanjutan petualangan Naofumi. Di akhir 2025 ini, review ini melihat kembali kekuatan seri secara keseluruhan, terutama dengan tambahan musim terkini yang memperkaya lore dunia fantasi. BERITA BOLA

Alur Cerita dan Tema Mendalam: Review Anime The Rising of the Shield Hero

The Rising of the Shield Hero unggul karena pendekatannya yang gelap terhadap genre isekai. Naofumi bukan hero overpower instan; ia mulai dari nol, penuh dendam setelah pengkhianatan, tapi perlahan belajar mempercayai lagi. Tema redemption, trust, dan konsekuensi kekuasaan dieksplorasi dengan matang. Musim pertama fokus pada rise from zero, musim kedua dan ketiga menangani reuni hero lain serta ancaman besar seperti Spirit Tortoise. Musim keempat melanjutkan arc Siltvelt dan Heavenly Emperor, dengan konflik politik di negara demi-human serta asal-usul Raphtalia yang lebih dalam. Alur tetap tegang dengan twist tak terduga, meski pacing kadang lambat di bagian build-up. Elemen revenge awal berubah menjadi cerita tentang membangun kerajaan dan melindungi yang lemah, membuat seri ini beda dari isekai ringan lainnya.

Karakter yang Kuat dan Berkembang: Review Anime The Rising of the Shield Hero

Karakter menjadi daya tarik utama. Naofumi awalnya cynic dan dingin, tapi evolusinya menjadi pemimpin bijak terasa natural dan menginspirasi. Raphtalia tumbuh dari budak takut menjadi warrior setia dengan backstory emosional, sementara Filo membawa elemen lucu sebagai filolial hiperaktif. Party sekunder seperti Melty, Rishia, dan hero lain—Ren, Motoyasu, Itsuki—punya arc redemption masing-masing. Di musim keempat, karakter baru dari negara beastmen menambah dinamika, termasuk konflik internal Naofumi saat menghadapi masa lalu Raphtalia. Chemistry antar karakter solid, dengan momen found family yang menghangatkan hati di tengah aksi brutal. Bahkan antagonis seperti Malty atau Kyo punya motivasi yang membuat mereka tak sekadar villain datar.

Produksi Visual dan Atmosfer yang Immersive

Animasi seri ini konsisten berkualitas, dengan desain dunia luas dan efek shield Naofumi yang inovatif. Musim pertama sudah memukau, tapi musim-musim berikutnya, terutama keempat, menunjukkan peningkatan di pertarungan skala besar dan ekspresi emosi. Soundtrack epik mendukung nada serius, sementara voice acting—khususnya Naofumi—memberi kedalaman karakter. Opening dan ending tiap musim selalu memorable, menambah hype. Meski ada kritik pada musim kedua soal animasi yang kurang stabil, musim ketiga dan keempat berhasil memperbaiki itu, dengan visual lebih detail di lokasi baru seperti Siltvelt. Secara keseluruhan, produksi mendukung atmosfer dark fantasy tanpa kehilangan momen ringan.

Kesimpulan

The Rising of the Shield Hero tetap jadi rekomendasi top untuk penggemar isekai yang suka cerita matang dan emosional. Dari musim pertama yang legendaris hingga musim keempat yang baru selesai pada 2025, seri ini sukses menjaga kualitas dengan tema mendalam, karakter relatable, dan dunia yang kaya. Pengumuman musim kelima langsung setelah finale menunjukkan potensi besar untuk arc selanjutnya. Kelemahan seperti pacing lambat di beberapa bagian tak mengurangi pesona utama. Bagi yang belum nonton, mulai sekarang juga—pengalaman Naofumi bangkit dari keterpurukan dan membangun segalanya dari nol akan sulit dilupakan di tengah banyaknya anime saat ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…