Review Anime Don’t Touch Kotesashi
Review Anime Don’t Touch Kotesashi. Anime Don’t Touch Kotesashi yang tayang dari Oktober hingga Desember 2025 menjadi salah satu serial ecchi komedi paling kontroversial tahun ini. Adaptasi dari manga populer ini mengikuti Koyo Kotesashi, siswa SMA miskin dengan kemampuan pijat luar biasa, yang bekerja sebagai pengurus asrama di sekolah olahraga elit untuk beasiswa kedokteran. Di sana, ia merawat atlet wanita unik dengan “tangan ajaib”-nya, sering berujung situasi fanservice berat. Dengan 12 episode pendek, anime ini menawarkan campuran humor dorm life, elemen sports, dan ecchi eksplisit yang membuatnya ramai dibahas, meski sering dikritik sebagai fanservice murni. BERITA BOLA
Alur Cerita yang Ringan dan Fanservice-Oriented: Review Anime Don’t Touch Kotesashi
Alur Don’t Touch Kotesashi sederhana tapi efektif untuk genre harem ecchi: Koyo menangani masalah fisik dan mental para atlet perempuan melalui pijat, tapi sentuhannya sering memicu reaksi intens. Setiap episode fokus pada satu atau dua gadis, seperti swimmer pemalu atau volleyball player kompetitif, dengan konflik ringan seputar latihan dan rivalitas. Cerita tidak terlalu dalam, lebih ke komedi situasional dan romansa subtle, tapi dinamika dorm membuatnya terasa hidup. Meski plot tipis dan repetitif, eksekusi cepat membuatnya mudah ditonton binge. Di akhir 2025, anime ini dianggap entertaining untuk yang suka ecchi tanpa pretensi, tapi kurang memuaskan bagi yang cari story kompleks.
Karakter yang Menarik tapi Stereotip: Review Anime Don’t Touch Kotesashi
Koyo sebagai protagonis oblivious tapi profesional jadi pusat cerita—ia fokus karir dokter olahraga tanpa niat romantis, membuat harem terasa lebih natural daripada biasanya. Gadis-gadis atlet punya quirk unik: satu pemalu, satu agresif, satu tsundere, memberikan variasi interaksi lucu. Chemistry Koyo dengan mereka sering menghibur, dengan momen awkward yang jadi sumber komedi. Pengisi suara solid, terutama untuk ekspresi “kenikmatan” saat pijat. Namun, karakter terasa stereotip ecchi klasik, dengan sedikit perkembangan mendalam. Kekuatan ada pada realism relatif—gadis-gadis tidak langsung jatuh cinta, membuat harem ini lebih human daripada banyak serial sejenis.
Produksi Visual dan Konten Ecchi yang Berani
Visual Don’t Touch Kotesashi cukup solid untuk genre short episode, dengan desain karakter menarik dan animasi pijat yang detail—efek moan dan nudity sering muncul, terutama di versi uncensored. Warna cerah dan background sekolah olahraga mendukung vibe energik, meski animasi kadang kaku di luar scene fanservice. Musik opening energik dan ending high tension pas dengan tempo komedi. Konten ecchi berat—nudity, gasps, dan reaksi orgasme-like—membuatnya borderline hentai, sering dikritik underage setting. Bagi penggemar ecchi, ini deliver berlimpah; bagi yang lain, terlalu much dan kurang tasteful.
Kesimpulan
Don’t Touch Kotesashi adalah anime ecchi 2025 yang tahu target audiensnya: fanservice berat dengan komedi dorm dan twist harem realistis. Meski plot sederhana dan kontroversi konten dewasa, ia sukses jadi guilty pleasure musim gugur dengan dinamika karakter fun dan pijat “ajaib” yang ikonik. Cocok untuk yang suka rom-com ringan berbau sports ecchi, tapi skip kalau sensitif gore fanservice atau cari depth. Di akhir tayang, serial ini meninggalkan kesan sebagai entry solid di genre saturated, dengan potensi kultus di kalangan penggemar ecchi. Layak dicoba versi censored dulu untuk tes selera!
