Review Anime March Comes in Like a Lion
Review Anime March Comes in Like a Lion. Di penghujung 2025, anime March Comes in Like a Lion kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar, terutama setelah manga aslinya karya Chica Umino memasuki tahap akhir dengan volume 18 yang dirilis September lalu dan volume 19 diprediksi sebagai penutup. Serial yang tayang dua musim pada 2016-2018 ini mengikuti Rei Kiriyama, pemain shogi profesional berusia 17 tahun yang hidup mandiri sambil bergulat dengan depresi, kesepian, dan trauma masa kecil. Rei perlahan menemukan kehangatan melalui keluarga Kawamoto—tiga bersaudara Akari, Hinata, dan Momo—serta pertandingan shogi yang intens. Meski belum ada pengumuman musim ketiga hingga akhir tahun ini, anime ini tetap jadi rekomendasi utama untuk slice of life yang mendalam dan emosional. BERITA BOLA
Alur Cerita dan Karakter: Review Anime March Comes in Like a Lion
March Comes in Like a Lion menggabungkan elemen slice of life dengan drama psikologis, di mana shogi bukan sekadar permainan tapi metafor perjuangan hidup Rei. Alur bergerak lambat tapi purposeful, bergantian antara pertandingan shogi yang tegang dan momen sehari-hari yang hangat. Musim pertama fokus pada isolasi Rei dan pertemuannya dengan keluarga Kawamoto, sementara musim kedua memperdalam isu bullying yang dialami Hinata serta pertumbuhan Rei dalam menghadapi rival seperti Nikaidou yang enerjik.
Karakter utama begitu hidup dan relatable. Rei digambarkan realistis sebagai pemuda yang berbakat tapi rapuh mental, sering tergambar melalui narasi internal yang dalam. Keluarga Kawamoto memberikan kontras cerah: Akari yang dewasa dan penyayang, Hinata yang pemberani, serta Momo yang imut. Rival shogi seperti Shimada yang gigih atau Souya yang misterius menambah lapisan kompetisi yang manusiawi. Pengembangan karakter berlangsung alami, membuat penonton ikut merasakan perubahan emosional mereka dari episode ke episode.
Visual, Animasi, dan Musik: Review Anime March Comes in Like a Lion
Salah satu kekuatan terbesar anime ini adalah produksi visualnya yang unik dan artistik. Gaya animasi penuh warna cerah saat momen bahagia, berubah drastis menjadi gelap dan abstrak saat menggambarkan depresi Rei, dengan transisi kreatif yang memukau. Pertandingan shogi divisualisasikan dinamis, seperti badai atau sungai deras, membuat permainan yang kompleks terasa hidup tanpa membingungkan.
Animasi mengalir halus, dengan detail kecil seperti ekspresi wajah atau gerakan tangan saat bermain shogi yang teliti. Musik pendukungnya luar biasa, lagu pembuka dan penutup dari artis terkenal selalu pas dengan nuansa melankolis tapi penuh harapan. Soundtrack latar belakang sederhana tapi efektif, memperkuat emosi tanpa mendominasi. Pengisi suara memberikan performa natural dan mendalam, terutama Rei yang terdengar rapuh namun kuat seiring waktu.
Tema dan Dampak Emosional
Anime ini unggul menyampaikan tema depresi, kesepian, dan penyembuhan melalui hubungan manusia tanpa terasa preachy. Ia mengeksplorasi bagaimana tekanan prestasi bisa merusak jiwa, tapi juga kekuatan keluarga pilihan dan persahabatan dalam mengatasinya. Cerita Hinata tentang bullying di musim kedua jadi salah satu arc paling menyentuh, mengajarkan empati dan keberanian.
Dampak emosionalnya kuat; banyak episode mampu membuat penonton menangis atau tersenyum dalam satu adegan yang sama. Pendekatan realistis terhadap kesehatan mental membuatnya terasa terapeutik, cocok untuk healing di saat sulit. Di tengah anime yang penuh aksi, serial ini seperti napas segar yang mengingatkan nilai dukungan sosial dan pertumbuhan pribadi.
Kesimpulan
March Comes in Like a Lion tetap jadi salah satu anime terbaik dekade ini di akhir 2025, dengan dua musim yang konsisten berkualitas tinggi dan cerita yang timeless. Meski manga mendekati akhir dan penggemar menantikan musim ketiga, adaptasi yang ada sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri. Sangat direkomendasikan bagi yang suka drama psikologis ringan tapi mendalam, atau butuh tontonan yang menyembuhkan hati. Serial ini bukti bahwa cerita tentang perjuangan batin bisa sama epiknya dengan petualangan besar, layak ditonton ulang kapan saja.
